Pahit di Sini, Manis di Sana (BUYA HAMKA)
Pada Hari Santri Nasional, tgl 22 Oktober 2023, aku dan teman-teman nobar (alias nonton bareng). Nonton film inspiratif, yang berjudul Buya Hamka.
Dari film tsb menggambarkan tentang semangat juang dari seorang tokoh agama Indonesia, beliau bernama Buya Hamka, yang diperankan oleh Vino G Bastian, Siti Raham sebagai istri Hamka yang diperankan oleh artis muslimah cantik bernama Laudya Cynthia Bella.
---
Profil singkat tentang Buya Hamka
Buya Hamka atau Haji Abdul Malik Karim Amrullah lahir pada tanggal 17 Februari 1908 di Sungai Batang, Tanjung Raya, Agam, Sumatra Barat. Beliau juga bergelar Datuk Indomo. Beliau adalah seorang ulama dan sastrawan Indonesia dan juga aktif dikenal sebagai ulama, sastrawan, penulis dan tokoh Islam. Beliau mendapatkan gelar Doktor Kehormatan (Honoris Causa) dari Universitas Al-Azhar di Mesir dan Universitas Kebangsaan Malaysia.
Buya Hamka adalah anak pertama dari empat bersaudara. Buya Hamka adalah anak Haji Abdul Karim Amrullah dan Safiyah. Ayahnya dikenal sebagai Haji Rasul, merupakan pelopor Gerakan Ishlah (tajdid) di Minangkabau. Ketika kecil, beliau kerap mendengar pantun tentang alam Minangkabau dari anduangnya (nenek). Hal itu terjadi jika sang ayah harus bepergian untuk berdakwah.
Kemudian beliau pindah ke Padang Panjang mengikuti kepindahan orang tuanya. Di Padang Panjang, beliau belajar di sekolah desa dan mengikuti kelas sore di sekolah agama yang didirikan oleh Zainuddin Labay El-Yunusy pada tahun 1916. Karena kesukaannya dengan pelajaran bahasa, beliau cepat menguasai bahasa Arab. Ketika Hamka berusia 10 tahun, ayahnya telah mendirikan Sumatra Thawalib di Padang Panjang. Setelah tiga tahun belajar di sekolah desa, ayahnya memasukkannya ke Thawalib, agar ia lebih bisa mempelajari ilmu agama dan bahasa serta bisa mendalami kitab-kitab klasik, nahwu serta sharaf. Terlepas dari pelajaran sekolah formal, beliau juga pernah mengikuti pengajaran agama di surau dan masjid yang diajarkan oleh ulama terkenal seperti Syekh Ibrahim Musa dan Syekh Ahmad Rasyid. Beliau dibesarkan dalam tradisi Minangkabau.
Masa kecilnya dipenuhi gejolak batin karena saat itu terjadi pertentangan yang keras antara kaum adat dan kaum muda tentang pelaksanaan ajaran Islam. Banyak hal-hal yang tidak dibenarkan dalam Islam, tapi dipraktikkan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Sejak muda, beliau dikenal sebagai seorang pengelana. Bahkan ayahnya, memberi Buya Hamka gelar Si Bujang Jauh. Pada akhir tahun 1924, tepat di usia ke 16 tahun, Hamka merantau ke Yogyakarta dan mulai belajar pergerakan Islam modern kepada sejumlah tokoh seperti H.O.S Tjokroaminoto, Ki Bagus Hadikusumo, R.M Soerjopranoto dan H. Fachruddin.
Dari sana dia mulai mengenal perbandingan antara pergerakan politik Islam, yaitu Sarekat Islam Hindia Timur dan gerakan Sosial Muhammadiyah. Di sana ia tinggal selama enam bulan bersama iparnya A.R. St. Mansur. Beliau banyak belajar pada iparnya, baik tentang Islam yang dinamis dan politik. Di sini beliau mulai berkenalan dengan pemikiran Muhammad Jamaluddin Al-Afgani, Muhammad Abduh, dan Rosyid Ridha yang berupaya mendobrak kebekuan umat Islam pada masa itu.
Pada bulan 1925, ia pulang ke Maninjau. Sekembalinya dari Jawa, beliau membawa semangat dan wawasan baru tentang Islam yang dinamis. Adapun buah tangan berharga dibawanya adalah beberapa buah karya yang memuat pemikiran ilmuwan waktu itu. Dengan bekal dan pengalaman dan pengetahuan, baik ilmu Agama maupun pengetahuan umum, ia telah berani tampil berpidato di muka umum. Untuk membuka wawasannya, beliau mulai berlangganan pula dengan ide-ide pembaharuan dan pergerakan umat Islam baik Indonesia maupun luar negeri.
Pada tahun 1927, ia berangkat menunaikan ibadah haji sambil menjadi koresponden pada harian Pelita Andalas di Medan. Sekembalinya dari Makkah, ia tidak langsung ke Minangkabau, namun singgah di kota Medan untuk beberapa waktu. Di kota inilah ia banyak menulis artikel di berbagai majalah waktu itu. Buya Hamka adalah seorang otodidak dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan. Di antaranya seperti Filsafat, Sastra, Sejarah, Sosiologi dan Politik, baik dalam dunia Islam maupun dunia Barat.
Dengan kemahiran bahasa Arabnya yang tinggi, beliau dapat meneliti karya-karya ulama dan pujangga besar di Timur Tengah seperti Zaki Mubarak, Jurji Zaidan, Abbas Al-Aqqad, Mustafa Al-Manfaluti, dan Husayn Haykal. Melalui bahasa Arab juga, beliau meneliti karya sarjana Prancis, Inggris, dan Jerman seperti Albert Camus, William James, Sigmund Freud, Arnold Toynbee, Jean Paul Sartre, Karl Marx dan Pierre Loti.
Ketokohan Buya Hamka dan keluasan ilmu pengetahuannya, serta kepeduliannya terhadap nasib umat Islam, tidak hanya terkenal di kalangan nasional saja, tetapi juga di Timur Tengah, dan Malaysia. Tun Abdul Razak Perdana Menteri Malaysia pernah mengatakan bahwa Buya Hmak bukan hanya milik bangsa Indonesia, tetapi juga kebanggaan bangsa-bangsa Asia Tenggara.
Pada tanggal 24 Juli 1981 beliau berpulang ke rahmatullah. Jasa dan pengaruhnya masih terasa hingga kini dalam memartabatkan agama Islam di Indonesia. Beliau bukan sahaja diterima sebagai seorang tokoh ulama dan sastrawan di negara kelahirannya, bahkan jasanya juga dihargai di seantero Nusantara, termasuk Malaysia dan Singapura.
---
Nahh dari film tersebut, menurutku ada 3 pelajaran yang tak kalah pentingnya dalam hidup :
1. Dibalik suksesnya suami, ada perjuangan dan dukungan seorang istri
Dalam film Buya Hamka Vol.1, kita tak hanya diperlihatkan perjuangan seorang Buya Hamka seorang diri, melainkan juga berkat dukungan dari istrinya, Siti Raham. Ketika Buya Hamka sedang kesulitan, kebingungan, dan butuh solusi dari permasalahan hidupnya, istrinya selalu ada di sisinya dan menemani serta memberikan dukungan untuknya.
Film ini membuktikan bahwa dibalik kesuksesan seorang pria, ada peran besar wanita yang mendukung dan membantunya. Dengan demikian, film ini memberikan gambaran tentang betapa pentingnya peran wanita dalam kesuksesan seorang pria dan menghargai kontribusi mereka dalam kehidupan sehari-hari.
2. Berlaku adil dalam poligami bukanlah hal yang mudah
Salah satu adegan favorit saya adalah ketika ada seorang anak gadis mendatangi Buya Hamka, lalu perempuan tersebut menawarkan diri untuk menjadi istri keduanya. Buya Hamka berpura-pura mencari tasnya, dan pergi meninggalkan gadis tersebut. Alih-alih berhasil pergi, justru gadis tersebut yang menemukan tas Buya Hamka dan memberikannya ke beliau. Ketika ditanya, mengapa ia menghindar dan tidak mau meresponnya, dan membawakan dalil berupa ayat pada surat An-Nisa ayat 3 Buya Hamka dengan tenang menjawab :
"Perhatikan ayat selanjutnya, dimana laki-laki harus bisa berlaku adil." Dan beliau juga menjelaskan bahwasannya sulit untuk berlaku adil. "Jika berlaku adil pada diri sendiri dan sekitar saja sulit, apalagi berlaku adil pada banyak perempuan?"
Jawaban Buya Hamka seharusnya menyadarkan pihak-pihak yang seringkali memberikan statement mengenai keutamaan poligami, dan keuntungan-keuntungannya, tanpa memberi tahu bahwa perlu ada tanggung jawab yang besar serta kewajiban berlaku adil. Tentu, poligami tidak semudah itu.
Buya Hamka tidak menyalahkan poligami, tetapi ia juga tidak bermudah-mudahan dalam menganjurkan praktek tersebut. Ia mampu menjelaskan bahwa poligami memerlukan tanggung jawab yang besar dan kewajiban untuk berlaku adil kepada semua istri. Oleh karena itu, pembahasan mengenai poligami tidak dapat dilepaskan dari kewajiban dan tanggung jawab yang harus diemban oleh seorang suami.
3. Dakwah bisa melalui cara-cara yang sederhana
Di film Buya Hamka Vol.1 juga diperlihatkan bagaimana perjuangan seorang Buya Hamka dalam berdakwah. Ia tak hanya menulis koran dan berdakwah lewat mimbar. Ia juga berdakwah melalui cara yang dekat dengan keseharian, yakni menulis cerita roman.
Sebagaimana yang ia sebutkan dalam filmnya, bahwa menulis cerita roman bisa menjadi media dakwah yang efektif, karena akan lebih mengena di hati para pembacanya. Selain itu, beliau juga berhasil menjadi contoh. Bagaimana perjuangannya dan kasih sayangnya untuk keluarga, Pers, agama, dan bangsanya berhasil membuat orang-orang disekitarnya mencontoh dirinya. Sebagaimana yang Siti Raham katakan pada Buya Hamka:
"Jadikanlah diri Engku contoh bagi mereka. Sebagaimana ambo mencontoh perilaku Engku. Berjuang setiap harinya, menegakkan jiwa tauhid yang sebenarnya."
---
Lebih kerennya lagi, beliau juga mengatakan kata-kata bijaknya tentang kehidupan yang mampu membangkitkan semangat :
1. Kalau hidup sekadar hidup, babi di hutan juga hidup. Kalau bekerja sekadar bekerja, kera juga bekerja.
2. Kehidupan itu laksana lautan. Orang yang tiada berhati-hati dalam mengayuh perahu, memegang kemudi dan menjaga layar, maka karamlah ia digulung oleh ombak dan gelombang. Hilang di tengah samudera yang luas. Tiada akan tercapai olehnya tanah tepi.
3. Iman tanpa ilmu bagaikan lentera di tangan bayi. Namun ilmu tanpa iman, bagaikan lentera di tangan pencuri.
4. Orang berakal hidup untuk masyarakatnya, bukan buat dirinya sendiri.
6. Salah satu pengkerdilan terkejam dalam hidup adalah membiarkan pikiran yang cemerlang menjadi budak bagi tubuh yang malas, yang mendahulukan istirahat sebelum lelah.
7. Jangan takut jatuh, kerana yang tidak pernah memanjatlah yang tidak pernah jatuh. Yang takut gagal, kerana yang tidak pernah gagal hanyalah orang-orang yang tidak pernah melangkah. Jangan takut salah, kerana dengan kesalahan yang pertama kita dapat menambah pengetahuan untuk mencari jalan yang benar pada langkah yang kedua.
Wallahu A'lam. Semoga bermanfaat.
Paiton, 25 Oktober 2023
Penulis @fz.elbatul


Komentar
Posting Komentar