Allah Mengikuti Prasangka Kita


Jika Allah itu Maha Kuasa, mengapa Dia berkata : “Aku sebagaimana persangkaan hamba-Ku ?” Apa gunanya Tuhan jika hanya mengikuti prasangka manusia? Di mana letak kemahaagungan-Nya, kalau justru tampak seperti menurut isi hati kita?”

Pertanyaan yang tak lahir dari keraguan, tapi dari cinta yang ingin mengenal lebih dalam. Mari kita bahas yah...

Dalam hadist Qudsi , Allah berfirman :

“Aku adalah sebagaimana persangkaan hamab-Ku terhadap-Ku. Jika ia berprasangka buruk, maka itu pula yang akan ia temui. (HR. Bukhari dan Muslim)

Apakah ini berarti Allah tunduk pada maunya manusia? Tentu tidak. Justru di sinilah letak keagungan dan kelembutan-Nya yang tak tertandingi. Allah tidak berubah karena prasangkamu, engkau membuka atau menutup pintu rahmat yang selalu terbuka.

Ini bukan soal Allah yang mengikuti kita. Ini tentang kita yang sedang diuji: bagaimana kita melihat-Nya? Apakah dengan kaca mata cinta, atau dengan lensa luka?

Karena prasangka bukan sekadar lintasan pikiran. Ia adalah cermin dari hatimu. Bila hatimu penuh harap dan cinta, maka kau akan temui Allah sebagai Maha Pengasih yang memelukmu dalam letih. Tapi jika hatimu diliputi curiga dan kecewa, maka yang kau temui adalah bayangan dari keraguanmu sendiri, bukan karena Allah berubah, tapi karena hatimu menutup jendela cahaya-Nya. 

Allah, dalam hadist ini mengajarimu: Cinta itu bukan paksaan. Cinta itu pilihan. Dan prasangkamu adalah pintu untuk memilih-Nya.

Bayangkan seorang kekasih yang berkata: “aku akan menjadi sebagaimana kau percaya padaku.” Itu bukan kelemahan, melainkan bentuk tertinggi dari kepercayaan dan kelembutan.

Allah tidak perlu tunduk pada kita, tapi Dia memilih untuk dekat dengan hati yang berharap. Itu bukan kelemahan. Itu adalah keagungan dalam bentuk yang paling lembut.

Maka, berbaik sangkalah. Bukan karena Allah butuh itu, tapi karena jiwamulah yang akan hancur jika tidak menggenggam harapan.

Begitu romantisnya Tuhan kita. Ia tak memaksa dicintai, tapi Dia tak pernah berhenti mencintai.

Tabik,


Tiris, 30 Juni 2025 / 17:24 WIB 

Karya : Nadirsyah Hosen

Penulis : Zahroil Batul

Komentar

Postingan Populer