Di Jam Seperti Sekarang, Nabi Sedang Apa?



Malam 23 Ramadhan 1447 H

Di keheningan malam ini, lampu ruangan masih menyala.
Aku duduk sembari meminum secangkir susu yang kubuat sendiri.

Sesekali mataku menatap foto-foto di dinding yang mulai kusam, satu per satu, seolah setiap gambar menyimpan cerita yang tak pernah benar-benar usai.

Pandanganku kemudian terhenti pada sebuah jam dinding. Jarumnya menunjuk pukul 23.31.

Akhir-akhir ini, pikiranku sering berkelana ke masa lalu, sebuah masa yang tak mungkin pernah kutemui, namun terasa begitu dekat di hati.

Zaman Nabi.

Pernahkah terlintas di benakmu,
di jam seperti sekarang, di bulan Ramadhan seperti ini, Nabi biasanya sedang apa?

Saat berbuka puasa, apa yang beliau makan?
Ketika sahur, apa yang beliau santap?
Beliau duduk di mana, bersama siapa?

Dan di jam selarut ini,
apakah beliau telah beristirahat?
Ataukah justru sedang berdiri dalam salat,
memanjangkan munajat kepada Rabb-nya,
dalam sunyi yang hanya dipenuhi doa?

Lalu aku kembali bertanya pada diri sendiri.

Di malam Ramadhan seperti ini,
di jam yang sama,
kita sedang apa?

Malam-malam Ramadhan berlalu tanpa terasa. Jam terus bergerak, tak pernah menunggu siapa pun.

Sementara kita sering kali tenggelam dalam banyak kesibukan, namun justru lalai pada sesuatu yang paling berharga.

Barangkali, bukan kita yang harus hidup di zaman Nabi. Tetapi kitalah yang harus berusaha menghadirkan jejak kehidupan beliau di zaman kita.

Sebab Ramadhan yang kita jalani hari ini
adalah kesempatan yang mungkin tak akan datang dua kali.


Tiris, 13 Maret 2026
23.57 WIB

Karya: Zahroil Batul

Komentar

Postingan Populer