Aku, perinduMU
Shollu 'ala man khussho bil qur'ani, al-musthafal mukhtari min 'adnani
Robby saaltuka yaa adhimas syaani, bi 'uluwwi dzatika wasmikarrohmaani
....
Alhamdulillah, masih diberi kesempatan bisa hadir berkumpul kembali di tempat ini (ucapku dalam hati).
Aku duduk tepat lurus di depan sebuah meja berjarak 7 kotak yang nantinya sebagai tempat guru kami mengajar. Bersimpuh, membaca tulisan dalam lembaran kertas putih yang berisi silsilah nama-nama guru yang mulia. Mengalun dalam kerinduan dengan syair-syair kami menyuarakan, mungkin kami terlihat sedang memintal tali, tali yang menghubungkan antara hati dengan Sang Pencipta. Robby...
Tepat pada jam setengah 5 sore, guru kami rawuh. Kami tetap melanjutkan bacaan nadzom. Aku sangat bersyukur dan bahagia karena bisa berjumpa dengan beliau setelah kurang lebih 2 bulan tak bersua, alhamdulillah.. semoga Allah selalu memberi kesehatan juga keselamatan dhohir dan bathin untuk guru kami, aamiin allahuma aamiin.
Engkau kilau mutiara, yang menyangka dirimu debu belaka
Hatimu rumah terindah, aku selalu ingin kembali singgah
Di dalammu ku temu pelita, bersamamu aku tak tersesat gulita
Sepimu berdua bersama rindu, ramaimu hening tak peduli ruang dan waktu
Duhai... kami begitu merinduimu
Disini kami telah lama menantimu.
Dalam keterangan kitab Minahus Saniyah, salah satu hal yang aku ingat dipertemuan kajian beberapa hari kemarin, beliau berdawuh :
Seorang murid itu harus belajar meninggalkan hal-hal yang kurang bermanfaat bagi dirinya, yang pertama tidur tanpa kebutuhan, yang kedua makan tanpa merasa lapar, yang ketiga berbicara tanpa hajat/keperluan, yang kelima/terakhir bergaul tanpa kebutuhan. Persedikitlah kalian dari perkara mubah ! dan belajar memerangi hawa nafsu.
Dapat disimpulkan, bahwa ada 4 ajaran bagi seorang murid, antara lain :
1. Kurangi makan
2. Kurangi tidur
3. Kurangi berbicara
4. Kurangi bergaul
Adzan maghrib sudah terdengar ditelinga kami, dan kajian pun diusaikan. Doamu untuk sesama adalah hadiah terindah yang dapat kau berikan padanya.
Diperjalanan pulang, aku selalu merasa dihadiahi sepotong senja yang indah oleh Tuhan. Seolah begitu memanjakan mata untuk selalu menatap sepotong langit-Nya. Allah... terima kasih Engkau masih menganugerahi nikmatnya sebuah penglihatan padaku.
Kepada siapa rindu ini ku serahkan ? kepada awan ?
Ia tak kan mampu membendung
maka rintik lalu deras hujan banjiri bumi
dan rinduku masih sesakkan dada ini
Kepada siapa rindu ini ku serahkan ? kepada lautan ?
maka ombak, gelombang dan badai menghadang
rinduku takkan mampu dia tanggungkan
kepada siapa rindu ini ku serahkan ? kepada pepohonan ?
ranting meranggas, batang memanas, daun berguguran
rinduku mampu membakar hingga semak belukar
Duhai, Tuhan...
Candu rindu pada-Mu yang Kau tuang dihatiku
merasuki seluruh relung, hingga sel tubuhku
maka, hanya pertemuan dengan-Mu
penawarku...
Paiton, 28 Mei 2023 / 10:19 WIB
Penulis @fz.elbatul
.jpeg)


Mm jadi kangen
BalasHapus