Sajak Tafsir
siapa gerangan berani menafsirkanku ?
sebagai bunga yang menjadi mekar ketika pagi
aku batu. Kamu boleh mengembara ke langit
dan aku tetap saja di sini
tidak boleh tidur,
meskipun kadang memahami diri sendiri sebagai angin
tidak boleh menghardik pohon
yang ketika malam mengirimkan karbon
sungguh, aku batu
yang begitu saja di tengah jalan
yang kadang tenggelam ketika hujan
siapa pula sampai hati
menfasirkanku sebagai langit
yang letih menggerakkan awan
yang menghirup udara jika hari hujan
dan matahari menembus awan tebalnya ?
aku sungai, biar saja.
siapa kau yang berhak menfasirkanku sebagai batu ?
aku tak boleh letih menuruni bukit,
tak semestinya menanjak mengatasi langit,
tak seharusnya memadamkan matahari waktu siang
atau bersembunyi dari bulan ketika malam
Sungguh,
sungai tak akan bisa menjadi bunyi
atau sekedar rentetan aksara.
aku sungai yang hanya bisa mengikat pohon
agar tidak ikut kota mengembara ke hutan
dan meninggalkannya begitu saja.
padahal dari sana pula asal-usulnya,
dulu ketika masih purba.
Siapa yang menyuruhmu menafsirkanku sebagai sungai
yang bisa menjadi suara yang mengambang
bersama cahaya sore di sela-sela awan
yang kadang-kadang juga kau tafsirkan sebagai lambang kefanaan?
Aneh. Aku tak lain sawah yang dicangkul musim
dan dibiarkan tersiksa oleh padi yang begitu saja tumbuh di tengah-tengahnya.
Aku hanya suka menerima kota
jika kebetulan berjalan di hari libur dari desa ke desa
bercengkerama tentang cuaca yang suka ke sana ke mari,
yang tiba-tiba menjadi sama sekali diam
jika kau menafsirkanku sebagai batu.
Aku sawah, yang tak akan bisa ramah terhadapmu.
Sawah?
Siapa pula yang telah membisikkan kebohongan itu padamu?
Aku burung, yang boleh saja membayangkan
telah lahir dari telur yang dibayangkan batu,
terlibat dalam kisah cinta yang pernah kaubaca di kitab terjemahan itu.
Aku tidak menerjemahkan diriku sendiri menjadi burung,
karena aku burung.
Bukan sawah yang masih suka menerjemahkan dirinya menjadi kota
atau bahkan menafsirkan dirinya sebagai batu.
Burung hanya mencintai sayapnya sendiri,
mengagumi terbangnya sendiri yang mengungguli ladang,
bahkan mengatasi batu.
Sungai pun, yang sesekali terjun,
tidak pernah berkeberatan akan cintaku
kepada selembar daun yang merindukan langit.
Kau bilang aku burung?
jangan sekali-kali berkhianat kepada sungai, ladang, dan batu.
aku selembar daun terakhir yang mencoba bertahan
di ranting yang membenci angin.
aku tidak suka membayangkan keindahan kelebat diriku
yang memimpikan tanah,
tidak mempercayai janji api
yang akan menerjemahkanku ke dalam bahasa abu.
tolong tafsirkan aku sebagai daun terakhir
agar suara angin yang meninabobokan ranting itu padam.
tolong tafsirkan aku sebagai hasrat
untuk bisa lebih lama bersamamu.
tolong ciptakan makna bagiku,
apa saja – aku selembar daun terakhir
yang ingin menyaksikanmu bahagia ketika sore tiba.
siapa pula yang bilang aku berurusan dengan duniamu?
Kyai mana yang membohongimu?
Pendeta mana yang selama ini berdusta padamu?
Jangan tafsirkan aku sebagai apa pun
sebab aku tidak pernah ada dan tidak akan ada.
Aku tidak terlibat dalam makna seperti yang mereka bayangkan
tentang diri mereka sendiri
bukan bahasa yang tak lain masa lalu.
Dan kau juga tak akan mampu
membayangkan aku sebagai kapan saja.
Aku tidak memerlukan bahasa
diam bukan batu,
mengalir bukan sungai,
dicangkul bukan sawah,
terbang bukan burung,
bertahan bukan daun.
Aku tidak,
bukan apa pun.
Paiton, 10 Januari 2025 / 09:24 WIB
@fz.elbatul
.jpg)


Komentar
Posting Komentar