Surga akan menolak orang yang menolak orang lain


Tujuan pertama tasawuf adalah penyucian hati.

Tindakan pertama yang wajib dilakukan di jalan ini adalah menolak nafsu dan hasrat rendahnya.

Kewaspadaan yang dilahirkan dari penyendirian, kekhusyukan, perenungan, dan dzikir akan mengendalikan nafsu seseorang. 

Setelah itu, Allah SWT akan mencerahkan hatinya.

Dalam penyendirian, tidak ada sesuatu pun yang dilakukan secara terpaksa. 

Semuanya dilakukan dengan cinta, keikhlasan, dan keimanan sejati.

Jalan yang diikutinya bukanlah jalannya sendiri, melainkan jalan para sahabat, Nabi, para tabi'in, dan orang-orang yang diberi petunjuk.

Jika seorang mukmin mengikuti jalan tobat dengan cara ini disertai niat untuk membersihkan hatinya, Allah SWT akan menyelamatkannya dari segala bahaya dan kejahatan. 

Penampilannya menjadi enak dipandang. Kesucian akan mewarnai pikiran dan perasaannya, baik yang diungkapkan maupun yang disimpan.

Rasulullah SAW bersabda, "Jadilah seperti samudra yang penampakannya tidak berubah, tetapi di dalamnya kau tenggelamkan pasukan gelap hawa nafsumu." 

Pasukan nafsu ditenggelamkan seperti Firaun dan tentaranya yang ditenggelamkan di Laut Merah. 

Di atas samudra, biduk agama berlayar dengan aman, ia lintasi samudra luas itu. 

Ruh si penyendiri itu menyelami kedalamannya untuk menemukan mutiara hakikat, menuju hamparan mutiara ilmu, dan permata karunia, lalu kembali untuk menyebarkannya.

Allah SWT berfirman, "Dari keduanya keluar mutiara dan permata." ( Ar-Rahman [55:22]).

Hati seluas samudra itu hanya bisa dimiliki jika keadaan lahirmu sama dengan keadaan batinmu. 

Apa yang tersimpan dalam hatimu sama dengan yang tersimpan oleh lisan dan perbuatanmu.

Jika keadaan ini tercapai, takkan ada kemajemukan, perpecahan, atau kekacauan dalam samudra hati. Ia takkan diserang badai kesesatan.

Orang yang mencapai tingkatan ini berada dalam tingkatan tobat sejati, ia akan memiliki banyak ilmu yang bermanfaat.

Semua perbuatannya berguna bagi orang lain, hatinya tak pernah condong kepada kejahatan.

Jika ia salah atau lupa, ia diampuni, karena ia mengingat jika lupa dan bertobat jika berdosa.

Ia dekat kepada Tuhannya dan juga kepada dirinya sendiri.



Sumber : Buku Sirrur Asrar (Hakikat segala Rahasia Kehidupan) - Syekh Abdul Qadir Al-Jailani


Paiton, 16 Januari 2025 / 11:09 WIB

Penulis @fz.elbatul

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer