Let's Think
Sebab apa manusia bertanya ? Sebab ingin tahunya.
Sebab apa manusia berfikir ? Sebab gerak nalurinya.
Sebab apa manusia merindu ? Sebab gerak batinnya.
Sebab apa manusia mencinta ?
Sayangnya, aku belum tahu jawabannya.
Kata Mbah Nun, "manusia bukanlah siapa-siapa di hadapan patah hati."
Aku berfikir, maka "manusia adalah siapa di hadapan jatuh cinta ?"
Mengapa harus kata "jatuh" sebelum cinta ?
Mengapa bukan "naik cinta"
Jika disebut jatuh, berarti itu adalah hal yang menyakitkan. Kemudian di kolaborasikan dengan kata cinta, hakikatnya cinta merupakan sebuah kebahagian dan juga sebagai penderitaan.
Bermakna kebahagiaan itu bermakna positif yang berarti merasa cukup, tenang, dan sebagainya.
Sedangkan, penderitaan itu bermakna negatif yang berarti merasa derita, sakit, nelongso, atau susah, dan sebagainya.
Terkadang kebahagiaan dapat berubah menjadi penderitaan, bisa jadi karena rasa bahagia yang telah diinterpretasikan itu tidak pada tempatnya.
Misal lagi jatuh cinta, terus kamu umbar foto pasanganmu di akun media sosial kamu, pasti ada satu diantara penonton media sosial kamu yang merasa tertarik, akhirnya ditikung.😱 Jadilah pertentangan antara kamu dan orang ketiga. Naudzubillah..
Kemudian, bagaimana dengan adanya penderitaan yang bisa berubah menjadi kebahagiaan ? Yaitu dengan ubah stigma menjadi paradigma yang positif.
Misal lagi patah hati, terus kamu mencoba bangkit dengan cara kamu mengubah diri kamu menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya, diam-diam kamu upgrade diri, kamu melatih skill supaya menjadi sosok yang bertumbuh. Dan akhirnya, kamu menjadi sosok yang glow up, wow gitu 😍, kan bagus..
Jadi, konklusi dari keduanya adalah "jadikan sebuah penderitaan sebagai nyawa untuk hidup, dan jadikan kebahagiaan (harapan) sebagai daya untuk melanjutkan hidup."
Jika ada kata yang kurang layak atau kurang pas, silakan tulis di komentar. Di tunggu kritik dan sarannya. 😉
Rabu, 28 Mei 2025 / 21:32
Penulis @fz.albatul


Tidak bisa berkomentar 😑😂
BalasHapusItu sudah berkomentar 😂😂
BalasHapus