Cerita Pendek
ANTARA AKU, RINDU DAN KECEWA
Tolong sampaikan padanya, bahwa waktu yang baru saja ku lewatkan masih belum tertata rapi di rak kenangan. Saat ini aku sedang sibuk membersihkan debu pada pundaknya waktu, dan juga menulis kembali tentang ingatan yang tersisa. Ruangan ini sangat pengap, penuh dengan udara rindu yang bercampur dengan luka dan pecahan kasih sayang. Namun aku menyukainya.
Dinding yang penuh dengan album masa lalu pernah sangat menciptakan tawa, bukan sebuah candaan palsu yang mengubah jadi sendu.
Ku tatap kembali sebuah gambar yang terbingkai dengan hangatnya pelukan-pelukan. Kini tanganku dingin hampir menuju kaku, sembari menata vas bunga pemberian seorang teman. Ruangan baruku kini menyimpan sebuah candaan yang terlalu lucu, hingga membuatku menangis pilu. Perihal pintu, aku telah menguncinya dengan rapat. Banyak ketukan cinta yang ingin masuk, namun aku pura-pura tidak mendengar. Karena ruangan ini masih begitu asyik ku nikmati, merasa cukup udara ini untuk ku hirup.
Aku merasa nyaman dengan kemeja abu-abu yang ku kenakan. Seraya mendengar alunan lagu yang mampu membuat suasana hatiku menjadi lebih baik. Rambut yang baru saja ku potong sebahu, adalah salah satu bentuk pelarianku dari seorang teman yang bernama kecewa.
Tanaman kecil yang ku letakkan di mejaku semakin subur, sebab aku menyiramnya dengan air mata. Berbeda dengan keadaan sebelumnya, walaupun ia berada di pinggir jendela yang ku biarkan ia bebas bermain dengan udara, sinar mentari dan juga air hujan. Ia pernah begitu segar, menyejukkan mata namun seiring berjalannya waktu ia berubah layu tak bernyawa. Padahal ia, aku sangat menyayanginya.
Sebuah lentera dan sorotan layar yang kini menghangatkan di hadapanku. Rintikan hujan masih begitu deras, sesekali aku menoleh ke jendela yang setengah tertutup kain berwarna senja. Senyumku mengembang setelah melihat sebagian kertas penuh dengan tinta hitam dan biru. Ku coba langkahkan kaki menuju jendela, sesekali menghirup aroma hujan yang menenangkan. Aku tidak mengerti, mengapa hujan masih belum reda. Apakah langit turut kecewa sebagaimana yang aku rasakan atau seorang bernama rindu ingin datang kembali ? ah sudahlah.
Ku mundur perlahan dan berbalik arah, merebahkan diri sebagai bentuk rasa yang sedang tidak ingin diusik. Biarkan langit menurunkan buah kesedihannya hingga teman bernama kecewa tidak mengetuk pintu rumahku lagi, dan seseorang yang bernama rindu berharap juga tidak kembali.
Tidak selamanya rintikan hujan itu menyedihkan, kadang ia berhati baik dapat membantu setiap raga yang ingin pulang menuju dirinya. Alunan lagu terhenti, udara membuatku menekuk lutut. Mataku terpejam perlahan tubuhku tenggelam dalam lautan mimpi. Si kecewa membenci sebab ditinggalkan, dan si rindu tersenyum seraya berkata "aku akan kembali."
karya : @auraa.jingga
Please comment and constructive suggestions.



bagus ro, semangat buat karya nya....
BalasHapus