Mari Mendewasa Dengan Baik


Semakin dewasa engkau, semakin banyak pilihan, semakin sulit menentukan. Tapi saat kau telah bisa menentukan pilihan, saat itulah engkau dewasa.

Namun, bukankah setelah kita memilih, tidak semua pilihan itu baik ?

Fir'aun dewasa dengan menentukan pilihannya untuk mengaku sebagai Tuhan, dewasa itu yang kau inginkan ?

Sebaliknya, Nabi Ibrahim itu kebingungan memilih Tuhannya, hingga saat kedewasaannya. Nabi Ibrahim tumbuh dengan pilihan bahwa Allah Tuhannya, bukan bulan, matahari atau bintang, bahkan berhala, dewasa ini yang kau inginkan ?

Tumbuhlah, dewasalah dengan pilihan, jalan hidup, proses, tapi dengan Allah, bukan dengan niat-niat yang menyimpang dihatimu.

Jangan tumbuh untuk menunjukkan kepada orang tua bahwa engkau yang paling benar, engkau yang paling pintar. Tapi tumbuhlah untuk mendo'akan dan merawat mereka.

Tumbuhlah bukan dengan niat menjadi kaya, untuk berlomba pamer harta. Tapi tumbuhlah menjadi kaya, kaya dengan hati, kaya agar sanggup membantu orang-orang yang lemah untuk mencapai mimpi mereka.

Aku ingin kau dewasa dengan baik, dewasa yang diridhai Allah dan diakui oleh Rasulullah. Berjalan menebar banyak manfaat, bukan hanya mementingkan diri sendiri.

Dewasa kali ini, tidak berbicara tentang hal yang jauh dahulu, berhasil menutup aurat, tidak bermudah-mudahan dengan lawan jenis tanpa hal penting, membaca Al-Qur'an dengan baik dan istiqomah, lapang dada dan bertoleransi.

Demi Allah itu sangat dewasa, tidak banyak yang bisa melakukan itu.

Mari bertumbuh, seperti tumbuhnya Zaid bin Haritsah, Ali bin Abi Thalib, ibunda Maryam, Asiyah. Beliau semua berhasil dewasa dengan baik dan menggugurkan diri di tanah surga.


Dewasa juga berarti tidak banyak mengeluh, pemaaf, dan senantiasa menerima dengan lapang dada. 


Paiton, 19 September 2022
@fz.elbatul


Komentar

Postingan Populer