Surat Kecil Untuk Pelajar Yang Merantau
Selamat membaca
-----
Saat kau tengadahkan tangan kepada Allah, kau getarkan hatimu dengan permintaan, "Allah, aku ingin merantau, aku ingin keluar dari zona nyaman ini," ucapmu. Aku yakin, yang pertama kali ada di otakmu adalah untuk belajar.
Kau langkahkan kaki keluar rumah dengan niat akan merubah banyak hal, akan pulang dalam keadaan terbaik. Kau akan kuliah, agar setelahnya tak ada lagi keluarga yang kurang taat, kekeringan ilmu di tengah masyarakat atau perhiasan ibu yang terjual untuk pendidikanmu.
Perantauan itu ada 2 macam, yang pertama menyenangkan, banyak hal indah disana, kau sibuk menikmati tempat itu, tanpa sadar waktunya pulang, kau kembali dalam keadaan berantakan, penuh sesal, sebab otak masih kosong. "Kau tak dilarang main, tapi susun waktumu."
Kedua, tempatnya sulit dan menyesakkan karena sempat tak sesuai dengan ekspektasimu, mentalmu ambruk, kau memilih menyerah, pulang malu akhirnya tetap bertahan, tapi kerjaannya buang-buang waktu, main game seharian, nonton tanpa batas. Sewaktu kau pulang, "lihatlah, dia orang yang bodoh, pergi ke tempat sulit dan jauh hanya untuk pulang dengan otak yang kosong."
Sudah ? apa begini saja, niat dan rencanamu itu ? apa sebatas pintu rumah saja ? apa kau biarkan itu hanya jadi angan saja ?. Tak ada yang tahu sesulit apa kau di perantauan, setakut apa engkau, tapi kau punya Allah dan tekad, setiap keinginan ada jalan, ada Allah maka akan indah akhirnya.
Kenapa kau kini malas-malasan ?. Berdirilah, perbarui apa yang telah usang, katakan kepada dirimu "kau tak datang ke tempat itu kecuali untuk berjuang." Pantang pulang meski layar patah, pantang menyerah meski diamuk oleh keadaan, meski harus porak-poranda. Pada akhirnya itu membuatmu semakin kuat.
Kemudian, anak rantau, ingatlah suatu saat kau akan pulang, entah ke kampung halaman atau ke rumah akhirat, itu bisa terjadi kapan saja. Maka bertakwalah, taatlah, agar jika waktunya pulang, entah ke kampung halaman atau kampung akhirat, kau dalam keadaan diterima /diridhoi Allah.
Saat merantau, kau datang dengan kesendirian, saat merantau, kau kesepian, kau ketakutan, kau galau karena keadaan. Ingat lagi, kau punya Allah, berdo'alah semoga hatimu diberi keistiqomahan, berdo'alah semoga perantauanmu menjadikanmu benar, bukan malah semakin buruk. Terima kasih, telah berjuang sejauh ini.
Kita adalah seorang pejuang dalam kisah sendiri. Jangan runtuh hanya karena orang lain atau mungkin karena keadaan yang kurang bersahabat. Kau tak sendirian, kau pasti baik-baik saja, selama dihatimu ada Allah.
Paiton, 15 September 2022
Penulis @fz.elbatul
.jpg)


Komentar
Posting Komentar